Bireuen, Aceh (initogel) — Pagi di Pante Lhong selalu dimulai dengan hal yang sama: suara air yang mengalir pelan di sela saluran irigasi, dan langkah kaki para petani menuju sawah. Namun beberapa waktu terakhir, suara itu tak lagi seakrab dulu. Aliran air kerap tersendat, bahkan berhenti di sejumlah titik. Bagi warga, perubahan ini bukan hal sepele—ia langsung menyentuh urat nadi kehidupan.
Kondisi inilah yang mendorong Kementerian Pekerjaan Umum (PU) turun langsung ke lapangan untuk mengidentifikasi kondisi jaringan irigasi Pante Lhong. Langkah ini menjadi sinyal awal bahwa pemulihan sistem irigasi di kawasan tersebut mulai mendapat perhatian serius.
Irigasi yang Menopang Ribuan Hektare Sawah
Daerah Irigasi Pante Lhong selama bertahun-tahun menjadi sumber utama air bagi ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Bireuen. Dari saluran inilah sawah-sawah mendapatkan pasokan air untuk menanam padi, menjaga produktivitas, dan menopang ekonomi keluarga petani.
Namun pascabanjir besar yang melanda wilayah ini, kondisi jaringan irigasi mengalami kerusakan di berbagai titik. Endapan lumpur menumpuk di saluran utama, beberapa bagian tanggul terkikis, dan distribusi air menjadi tidak merata.
“Air sering terlambat sampai ke sawah kami,” tutur Amir (58), petani setempat yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari pertanian. “Kadang kami harus bergantian membuka pintu air supaya semua kebagian.”
Turun ke Lapangan, Catat Masalah Nyata
Tim dari Kementerian PU melakukan peninjauan menyeluruh, mulai dari bendung, saluran primer, hingga jaringan sekunder yang langsung terhubung dengan lahan warga. Setiap kerusakan dicatat, setiap keluhan didengar.
Identifikasi ini tidak hanya berfokus pada kondisi fisik bangunan irigasi, tetapi juga bagaimana kerusakan tersebut berdampak langsung pada pola tanam dan hasil panen petani. Beberapa petani menyampaikan kekhawatiran akan musim tanam yang terancam jika aliran air tidak segera normal.
“Kami ingin perbaikannya tepat sasaran,” ujar salah satu petugas di lokasi. “Apa yang rusak di lapangan, itu yang harus dipulihkan.”
Harapan Pemulihan dan Keterlibatan Warga
Bagi warga, kehadiran tim teknis membawa harapan baru. Mereka berharap identifikasi ini menjadi langkah awal pemulihan menyeluruh, bukan sekadar perbaikan sementara.
Selain perbaikan fisik, warga juga berharap bisa dilibatkan dalam proses pemulihan. Program padat karya dinilai dapat menjadi solusi ganda—mempercepat perbaikan sekaligus membantu perekonomian masyarakat pascabanjir.
“Kalau kami ikut bekerja, rasanya lebih memiliki,” kata Sari (45), petani sekaligus ibu rumah tangga. “Kami tahu betul di mana air sering macet.”
Lebih dari Sekadar Saluran Air
Irigasi Pante Lhong bukan hanya tentang air yang mengalir di beton dan tanah. Ia adalah penghubung antara musim hujan dan musim tanam, antara harapan dan hasil panen. Ketika irigasi terganggu, yang terancam bukan hanya padi, tetapi juga ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga petani.
Identifikasi yang dilakukan Kementerian PU menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pertanian di Aceh. Di tengah tantangan perubahan iklim dan risiko bencana, sistem irigasi yang andal menjadi fondasi penting bagi masa depan pertanian daerah.
Menunggu Air Kembali Mengalir Lancar
Menjelang siang, para petani kembali ke sawah masing-masing. Mereka masih menunggu hasil identifikasi itu berbuah nyata. Namun satu hal pasti, harapan telah kembali tumbuh.
“Kami tidak menuntut banyak,” ujar Amir sambil tersenyum tipis. “Cukup air mengalir lancar, kami bisa bekerja dan menghidupi keluarga.”
Di Pante Lhong, di antara lumpur sisa banjir dan saluran yang mulai dibersihkan, cerita tentang ketahanan dan harapan terus mengalir—seiring langkah awal pemulihan yang kini mulai terlihat.