Medan (cvtogel) — Hujan yang turun berhari-hari seolah tak hanya membawa air, tetapi juga kegelisahan. Di sejumlah wilayah Sumatera Utara, warga bangun dengan perasaan waswas: apakah rumah mereka masih berdiri, apakah jalan menuju ladang bisa dilewati, dan apakah keluarga akan tetap aman malam ini.
Wakil Gubernur Sumatera Utara menegaskan bahwa lima daerah kini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi karena terdampak bencana cukup parah. Pernyataan itu bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan potret kehidupan ribuan warga yang sedang berjuang bertahan di tengah keterbatasan.
Di Balik Data, Ada Cerita Manusia
Banjir yang merendam permukiman, longsor yang memutus akses jalan, serta angin kencang yang merobohkan rumah-rumah sederhana telah mengubah rutinitas warga. Sekolah terpaksa diliburkan, aktivitas ekonomi terhenti, dan sebagian keluarga memilih mengungsi demi keselamatan.
“Yang kami butuhkan bukan hanya makanan, tapi kepastian,” tutur seorang warga di lokasi pengungsian. Kepastian bahwa anak-anak bisa kembali belajar, sawah dapat digarap lagi, dan rumah bisa ditempati tanpa rasa takut.
Pemerintah daerah mencatat kerusakan infrastruktur dan dampak sosial yang signifikan di lima wilayah tersebut. Jalan penghubung antarkecamatan terputus, jaringan listrik terganggu, dan layanan air bersih terbatas. Situasi ini membuat penanganan tidak bisa dilakukan setengah-setengah.
Keselamatan Publik Jadi Prioritas
Wakil Gubernur menegaskan bahwa keselamatan warga adalah prioritas utama. Aparat gabungan—mulai dari BPBD, TNI-Polri, tenaga kesehatan, hingga relawan—dikerahkan untuk memastikan evakuasi berjalan aman dan tertib. Posko pengungsian diperkuat, dapur umum disiagakan, dan distribusi bantuan dipercepat.
Namun, di balik kerja cepat itu, tantangan tetap besar. Cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat menyulitkan akses ke beberapa titik terdampak. Alat berat harus bekerja ekstra, sementara petugas di lapangan berpacu dengan waktu.
Anak-anak dan Kelompok Rentan
Di tenda pengungsian, anak-anak mencoba bermain dengan alat seadanya. Tawa mereka terdengar, meski sesekali diselingi tatapan bingung. Trauma pascabencana menjadi kekhawatiran tersendiri. Pemerintah daerah mendorong pendampingan psikososial agar anak-anak, lansia, dan kelompok rentan tidak menanggung beban sendirian.
Para ibu berusaha tegar, menenangkan anak-anak sambil memikirkan masa depan rumah tangga. “Kami kuat, tapi tetap butuh dukungan,” ujar seorang ibu yang rumahnya terendam banjir hingga atap.
Hukum, Kemanusiaan, dan Tanggung Jawab Negara
Penanganan bencana bukan hanya soal respons darurat, tetapi juga soal tanggung jawab negara melindungi warganya. Wakil Gubernur menekankan pentingnya tata kelola yang transparan dan tepat sasaran dalam penyaluran bantuan. Setiap rupiah dan setiap paket bantuan harus sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Selain itu, evaluasi tata ruang dan mitigasi bencana menjadi agenda penting agar kejadian serupa tidak terus berulang. Sungai yang meluap, lereng yang rawan longsor, dan permukiman di kawasan berisiko perlu mendapat perhatian serius ke depan.
Gotong Royong yang Menguatkan
Di tengah kesulitan, semangat gotong royong kembali terlihat. Warga yang tidak terdampak langsung ikut membantu: mengirim makanan, pakaian, hingga tenaga. Relawan datang dari berbagai daerah, menyatukan langkah dalam misi kemanusiaan.
“Bencana menguji, tapi juga menyatukan,” kata seorang relawan. Kalimat sederhana itu terasa nyata di lapangan.
Menatap Pemulihan
Lima daerah yang kini menjadi perhatian bukan sekadar wilayah di peta. Di sana ada cerita kehilangan, ketakutan, sekaligus harapan. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menegaskan komitmennya untuk mengawal proses pemulihan—dari rehabilitasi rumah, perbaikan infrastruktur, hingga pemulihan sosial dan ekonomi warga.
Bencana mungkin meninggalkan luka, tetapi dengan kehadiran negara, kerja bersama, dan empati yang terus dijaga, warga Sumatera Utara perlahan bisa bangkit. Di antara genangan air dan tanah yang longsor, harapan tetap tumbuh—pelan, namun nyata.