Mataram — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan pentingnya intervensi pasar di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menjaga stabilitas harga pangan. Langkah ini ditempatkan sebagai upaya preventif agar gejolak harga—terutama menjelang periode permintaan tinggi—tidak membebani rumah tangga sekaligus tetap memberi kepastian bagi produsen di hulu.
Penekanan tersebut disampaikan di tengah dinamika pasokan dan distribusi yang dipengaruhi cuaca, logistik antarpulau, serta pola konsumsi musiman.
Intervensi yang Terukur dan Tepat Waktu
Bapanas menjelaskan, intervensi pasar dilakukan terukur dan berbasis data—menyasar komoditas strategis seperti beras, gula, minyak goreng, dan cabai. Instrumennya meliputi operasi pasar, penyaluran cadangan pangan, serta penguatan distribusi agar harga di tingkat konsumen tetap terjangkau tanpa menekan harga di tingkat petani.
Koordinasi dengan pemerintah daerah, BUMN pangan, dan pelaku distribusi menjadi kunci agar pasokan tiba tepat waktu dan tepat sasaran.
Keamanan Publik dan Ketahanan Sosial
Stabilitas harga pangan beririsan langsung dengan keamanan publik. Ketika harga melonjak, risiko keresahan sosial meningkat. Karena itu, Bapanas menempatkan intervensi sebagai bantalan sosial—menahan fluktuasi agar warga dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan tenang.
Pemantauan harian harga dan stok di pasar tradisional NTB dilakukan untuk mendeteksi dini potensi lonjakan dan merespons cepat sebelum meluas.
Human Interest: Dapur Tetap Mengepul
Di pasar-pasar NTB, kebijakan ini terasa nyata. Ibu rumah tangga bisa menata belanja tanpa cemas, pedagang menjaga perputaran dagang, dan petani memperoleh kepastian serapan. Intervensi yang tepat membantu menjaga martabat semua pihak—konsumen terlindungi, produsen tidak dirugikan.
Relawan dan petugas lapangan bekerja sunyi memastikan distribusi berjalan, timbangan akurat, dan informasi harga tersampaikan dengan jujur.
Menjaga Keseimbangan Hulu–Hilir
Bapanas menegaskan, stabilisasi tidak boleh memutus insentif produksi. Karena itu, kebijakan dirancang menjaga keseimbangan: harga wajar di konsumen, kepastian di produsen. Dukungan pascapanen, gudang, dan logistik antarpulau turut diperkuat agar NTB—sebagai wilayah dengan tantangan distribusi—tetap stabil.
Kolaborasi Berkelanjutan
Ke depan, Bapanas mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat data real-time, memperpendek rantai pasok, dan meningkatkan literasi harga. Dengan begitu, intervensi tidak reaktif, melainkan antisipatif.
Penutup
Penegasan Bapanas tentang intervensi pasar di NTB menunjukkan komitmen menjaga harga pangan yang adil dan stabil. Ketika kebijakan hadir tepat waktu dan berbasis empati, dapur warga tetap mengepul dan ekonomi lokal bergerak sehat.